Halaman

Senin, 20 Februari 2012

Yang Lalu Biarlah Berlalu


Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang berpikir, berkas-kas masa lalu akan akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruangan’ penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruangan gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkanya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

Jangn pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah paying gelap masa silam. Selamatkan diri anda dari banyangan masa lalu!! Apakah anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ketempatnya terbit, seorok bayi keperut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata kedalam kelopak mata ?? Ingatlah, keterikatan anda dengan masa lalu, keresahan anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa anda pada pintunya adalah kondisi yang sangat naïf, ironis, memprihatinkan dan sekaligus menakutkan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan “Itu adalah umat yang lalu”. Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urasannya. Dan tak ada unanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kemali ke masa lalu adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung atau orang yang menggergaji serbuk kayu.

Syahdan, Nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian : “Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”. Dan konon, kata orang yang mengerti bahsa binatang, sekawan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini “Mengapa engkau tidak menarik gerobak ?”

“Aku benci khayalan” jawab keledai.

Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kalifah akan berjalan ke depan dan segala sesuatu bergerak maju ke dapan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan !!

                                                          
                                                                                                                               ("La Tahzan")

MENGENAL WAREHOUSE ASSITANT

WAREHOUSE ASSITANT Warehouse Assistant, atau Asisten Gudang, adalah individu atau anggota team yang memiliki peran vital dalam bertanggung ...